Banner Link Gunadarma
".

Jumat, 13 November 2015

KARANGAN ILMIAH DAN NON ILMIAH, METODE ILMIAH, PENYUSUNAN SINTESIS

Tugas 2 


                 1.      KARANGAN ILMIAH & NON ILMIAH
2.      METODE ILMIAH
3.      PENYUSUNAN SISTESIS





NAMA            : WULAN PUSPITASARI
KELAS           : 3EB07
NPM               : 29213367




FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015




   DAFTAR ISI

  A.    Karangan Ilmiah ..................................................................................  2

1.         Tujuan pembuatan karangan ilmiah ........................................  2
2.         Bentuk-bentuk karya ilmiah .....................................................  2
3.     Contoh Karangan Ilmiah ..............................................................  3


  B.    Karangan Non- Ilmiah .........................................................................  3
 
1.         Ciri-Ciri Karangan Non Ilmiah.................................................... 3
2.         Jenis-jenis Karangan Non Ilmiah..............................................  3
3.         Perbedaan Karangan Ilmiah dan Non Ilmiah............................ 4

       C.    Metode Ilmiah ........................................................................ ............... 4

1.         Langkah-Langkah Metode Ilmiah .............................................  5
2.         Tujuan Mempelajari Metode Ilmiah ...........................................  6

       D.    Penyusunan Sintesis.............................................................................. 7
 
             1.      Pengertian Sintesis................................................................ ........ 7
             2.      Fungsi Sintesis...................................................................... ......... 7
       3.      Cara Membuat Sintesis.................................................................. 8

  Daftar Pustaka .............................................................................................. 9








     A.      KARANGAN ILMIAH

           Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
Karangan ilmiah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian.
1. Tujuan dari pembuatan karangan ilmiah
          a)      Memberi penjelasan
          b)      Memberi komentar atau penilaian
          c)      Memberi saran
          d)     Menyampaikan sanggahan
          e)      Membuktikan hipotesa
2. Bentuk- bentuk karya ilmiah

          1.      Karya Ilmiah Berbentuk Makalah
       Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu   yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan. Makalah ini umumnya merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, baik berupa kajian pustaka maupun hasil kegiatan perkuliahan lapangan.
          2.      Karya Ilmiah Berbentuk Report/ Laporan Ilmiah Yang Dibukukan
                   Karya ilmiah jenis ini biasanya ditulis untuk melaporkan hasil-hasil penelitian,  
                   observasi, atau survey yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang. Laporan  
                   ilmiah yang menjadi  persyaratan akademis di perguruan tinggi biasanya disebut  
                   Skripsi, yang biasanya dijadikan persyaratan untuk karya ilmiah jenjang S1, Tesis  
                   untuk jenjang S2, dan Disertasi untuk jenjang S3.
          3.      Buku Ilmiah
                  Buku ilmiah adalah karya ilmiah yang tersusun dan tercetak dalam bentuk buku oleh 
                   sebuah penerbit buku umum untuk dijual secara komersial di pasaran. Buku ilmiah 
                   dapat berisi pelajaran khusus sampai ilmu pengetahuan umum yang lain.
3. Contoh Karangan ilmiah :
a.       Makalah
Lazimnya, makalah dibuat melaluikedua cara berpikir tersebut. Tetapi, tidak menjadi soal manakala disajikan berbasis berpikir deduktif (saja ) atau induktif (saja). Yang penting, tidak berdasar opini belaka.  
b.      Skripsi
Skripsi adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat kelulusan.  
c.       Disertasi
Pencapaian gelar akademik tertinggi adalah predikat Dokter syarat mendapatkan gelar sarjana(S1). Bobotnya 6 satuan kredit semester (SKS) dan dalam pengerjakannya dibantu oleh dosen pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal  sampai akhir hingga mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi.  
d.      Tesis
Tesis merupakan jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pasca sarjana. Mahasiswa melakukan penelitian mandiri, menguji satu atau lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan baru’.or. Gelar dotor (ph.D) dimungkinkan manakala mahasiswa (s3) telah mempertahankan disertasi dihadapa Dewan Penguji Disertasi yang terdiri dari profesor atau Doktor dibidang masing-masing.
e.       Artikel Ilmiah
            Artikel ilmiah, bisa ditulis secara khusus, bisa pula ditulis berdasarkan hasil penelitian  
            semisal skripsi tesis, disertasi atau penelitian lainnya dalam bentuk lebih praktis.

      B.      KARANGAN NON-ILMIAH

Karangan non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
1. Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu: 
    ·         Ditulis berdasarkan fakta pribadi 
    ·         Fakta yang disimpulkan subyektif
    ·         Gaya bahasa konotatif dan populer 
    ·         Tidak memuat hipotesis 
    ·         Penyajian dibarengi dengan sejarah
    ·         Bersifat imajinatif 
    ·         Situasi didramatisir 
    ·         Bersifat persuasif
    ·         Tanpa dukungan bukti 

2. Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu: 
     ·         Dongeng 
     ·         Cerpen
     ·         Novel 
     ·         Drama 
     ·         Roman

3.  Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah
 
Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek :
-          Pertama
Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
-          Kedua
Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
-          Ketiga
Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.

 C. Metode Ilmiah
           Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir 
  untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol. 

 Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah 

      Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.

Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis

      Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.

Metode ilmiah didasarkan pada data empiris

      Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.

Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol

      Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol. 

1. Langkah-Langkah Metode Ilmiah
      Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:     

a. Merumuskan Masalah

     Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?

b. Merumuskan Hipotesis

    Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.

c. Mengumpulkan Data

     Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.

d. Menguji Hipotesis

     Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.

e. Merumuskan Kesimpulan

     Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.

2. Tujuan Mempelajari Metode Penulisan ilmiah :
     a.  Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara  
          sistematis 
    b.   Meningkatkan keterampilan dalam menulis berbagai karya tulis 
    c.   Meningkatkan pengetahuan tentang mekanisme penulisan karangan ilmiah
    d.   Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan 
         data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan 
          kesimpulan.
  e.    Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan  
          pengetahuan yang dapat diandalkan.
 D. Penyusunan Sintesis
       Sintesis diartikan sebagai komposisi atau kombinasi bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk satu kesatuan. Selain itu, sintesis juga diartikan sebagai kombinasi konsep yang berlainan menjadi satu secara koheren, dan penalaran induktif atau kombinasi dialektika dari tesis dan antitesis untuk memperoleh kebenaran yang lebih tinggi. 
           Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) sintesis diartikan sebagai “paduan berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras atau penentuan hukum yang umum berdasarkan hukum yang khusus.” Pengertian ini sejalan dengan pendapat Kattsoff (1986) yang menyatakan bahwa maksud sintesis yang utama adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia. Metode Sintesis Melakukan penggabungan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menyusun satu pandangan dunia.

Beberapa contoh dari pernyataan Sintetis adalah :
1    .       Bumi itu bulat.
2    .       Raka adalah anak yang menyenangkan.
    
        Fungsi Sintesis
Sintesis berfungsi untuk menggabungkan atau mengkompromikan dari pernyataan satu kepada pernyataan lain untuk memperoleh kesimpulan yang komprehensif.
 Contoh :
      1.Ilmu adalah aktifitas
      2.Ilmu adalah metode
      3.Ilmu adalah produk
      Kesimpulan : ilmu adalah aktifitas, metode, dan produk.
      Dalam penulisan karya ilmiah pada dasarnya adalah merangkum intisari bacaan yang berasal dari beberapa sumber. Kegiatan ini harus memperhatikan data publikasi atas sumber-sumber yang digunakan, kemudian dimasukan dalam daftar pustaka.
       Cara Membuat Sintesis
       Ada sejumlah syarat yang harus diperhatikan oleh penulis dalam membuat sintesis, di antaranya (Utorodewo  dkk, 2004: 97):
1     .       Penulis harus bersikap objektif dan kritis atas teks yang digunakannya
2     .       Bersikap kritis atas sumber yang dibacanya
3     .       Sudut pandang penulis harus tajam
4     .       Penulis harus dapat mencari kaitan antara satu sumber dengan sumber lainnya
5     .       Penulis harus menekankan pada bagian sumber yang diperlukannya
    
      
                 
            
    
                               Daftar Pustaka

  • http://rararirureroo.blogspot.co.id/2013/06/metode-ilmiah-definisi-tujuan-langkah.html
  • http://tulisantulisannugroho.blogspot.co.id/2013/03/perbedaan-karangan-ilmiah-non-ilmiah.html
  • https://haririyanto.wordpress.com/2015/05/30/softskill-bahasa-indonesia-3/
  • http://diosdorn.blogspot.co.id/2015/03/bahasa-indonesia-ke-2.html 



Kamis, 08 Oktober 2015

Penalaran Ilmiah, Berfikir Deduktif Dan Berfikir Induktif

 Tugas Bulan 1

  

 


1. Penalaran Ilmiah
2. Berfikir Deduktif
3. Berfikir Induktif



Nama : Wulan Puspitasari
Kelas : 3EB07
NPM : 29213367





Fakultas Ekonomi
UNIVERSITAS GUNADARMA





 DAFTAR ISI :

KATA PENGANTAR  .................................................................................................................. 3
BAB I  .......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN  ....................................................................................................................... 4
1.1  Latar Belakang  ...................................................................................................................... 5
1.2  Rumusan Masalah      ..............................................................................................................5 
1.3  Tujuan Makalah         ..............................................................................................................5 
BAB II                 ..........................................................................................................................6
PEMBAHASAN    …...................................................................................................................6
2.1   Pengertian Penalaran ………………………………………………………………..5
     2.1.2  Jenis-Jenis Penalaran……………...................................................................................6
     2.1.3  Pengertian Berfikir Deduktif …………………………………………………………....6
     2.1.4  Macam-macam Penalaran Deduktif……………...……………………………………..7
     2.1.5  Pengetian Penalaran Induktif………………………………………………………........8
    2.1.6  Bentuk-bentuk Penalaran Induktif.....................................................................................9
       2.2   Macam Hubungan Kausal................................................................................................9
BAB III   ..................................................................................................................................... 11
KESIMPULAN   .........................................................................................................................11
BAB IV    .....................................................................................................................................12
PENUTUP   .................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA  ..................................................................................................................13







                                                          KATA PENGANTAR
         Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah dengan judul “Penalaran Ilmiah, Berfikir Deduktif Dan Berfikir Induktif “.
         Di dalam pembuatan makalah ini, kami berusaha menguraikan dan menjelaskan tentang apa itu Penalaran Ilmiah, Berfikir Deduktif Dan Berfikir Induktif.
         Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati saya menyampaikan terima kasih kepada dosen Matakuliah Sofftskills, yang telah memberikan waktu dan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan makalah ini.
        Akhir kata saya menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya, oleh karena itu saya mengharapkan saran, kritik dan petunjuk dari berbagai pihak untuk pembuatan makalah ini menjadi lebih baik dikemudian hari.
        Semoga makalah yang telah saya buat ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan informasi bagi para pembacanya. Terima kasih.

                                                                                                                 Depok, 6 Oktober 2015







   A. PENGERTIAN DAN JENIS

  2.1.   PENALARAN  ILMIAH

      Pengertian Penalaran

     Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.

Dalam sumber yang sama, Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah suatu proses berpikir yang logis dengan berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan.Fakta  adalah kenyataan yang dapat diukur dan dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan, yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui, meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan. Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi”.

Sedangkan Widjono, (2007:209), mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
  1)   Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai  
        dengan simpulan.
  2)   Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
  3)   Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru.
  4)   Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji,   
        membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai  
        menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.

 5)    Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau  
        pengertian baru.

       Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan menarik kesimpulan.

     2.1.2  JENIS PENALARAN

Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.
1)  Penalaran induktif
        Ialah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunken suatu kesimpulan (inferesi) yang berlaku umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
a)  Generalisasi
        Ialah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
b)  Analogi 
        Ialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
c)  Sebab akibat
        Prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus ada penyebabnya.

2). Penalaran deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.

    2.1.3 BERFIKIR DEDUKTIF

     Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.
Dalam deduktif telah diketahui kebenarannya secara umum, kemudian bergerak menuju pengetahuan baru tentang kasus-kasus atau gejala-gejala khusus atau individual. Jadi deduksi adalah proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, toeri, keyakinan) menuju hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu ditariklah kesimpulan tentang hal-hal yang khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa itu.
Contoh :
–        Semua mahluk akan mati.
–        Manusia adalah mahluk.
–        Karena itu semua manusia akan mati.

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap.
Pertama, generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui dan diakui kebenarannya.
Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.

    2.1.4   MACAM-MACAM PENALAARAN DEDUKTIF :
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.

Jenis-jenis Silogisme :
1)      Silogisme Kategorial
2)      Silogisme Hipotetik
3)      Silogisme Alternatif
4)      Silogisme Disjungtif

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
–        Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor/ Premis Umum)
–        Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor / Premis Khusus).
–        Akasia membutuhkan air (Konklusi / Kesimpulan

2. Silogisme Hipotesis

Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese. Silogisme hipotetis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh karena sebab itu rumus proposisi mayor dari silogisme ini adalah:
Jika P, maka Q

Contoh :
Premis mayor : Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal.
Premis minor  : Hujan tidak turun.
Konklusi         : Sebab itu panen akan gagal.

3. Silogisme Alternatif

Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain. 
Contoh:
-       Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
-       Nenek Sumi berada di Bandung.
∴  Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

b. Entimem

Silogisme sebagai suatu cara untuk menyatakan pikiran tampaknya bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilangkan, proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran, dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimem yang berarti ‘simpan dalam ingatan’ dalam bahasa yunani. Dalam tulisan-tulisan bentuk inilah yang dipergunakan, dan bukan bentuk yang formal seperti silogisme.
Contoh :
-   Premis mayor : Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah Seorang
                              pemain kawakan.
-  Premis minor   : Rudy Hartono terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.
-  Konklusi          : Sebab itu Rudy Hartono adalah seorang pemain (bulu tangkis) kawakan.
-  Entimem          : Rudy hartono adalah seorang pemain bulu tangkis kawakan, karena terpilih
                             untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.

    2.1.5  PENALARAN INDUKTIF

Penalaran merupakan pemiikiran, logika, pemahaman. Penalaran adalah proses berpikir yang dapat menghasilkan pengertian atau kesimpulan. Penalaran berlawanan dengan panca indera karena, nalar didapat dengan cara berpikir sehingga dapat mengetahui suatu kebenaran.
Induktif merupakan hal yang dari khusus ke umum. Sehingga dapat dikatakan berpikir induktif adalah pola berpikir melalui hal-hal yang dari khusus lalu dihubungkan ke hal-hal yang umum.
Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.
Contoh penalaran induktif :
–        Kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
–        Kelinci berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
–        Panda berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
–        Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

    2.1.6    BENTUK-BENTUK PENALARAN INDUKTIF

a. Generalisasi : Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai
                          sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.
   Contoh generalisasi :
–        Jika dipanaskan, besi memuai.
–        Jika dipanaskan, baja memuai.
–        Jika dipanaskan, tembaga memuai.
–        Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.

b. Analogi : Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat
                    yang sama.
    Contoh analogi:
–        Ronaldo adalah pesepak bola.
–        Ronaldo berbakat bermain bola.
–        Ronaldo adalah pemain real madrid.

c. Hubungan kausal : penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.

    2.2  MACAM HUBUNGAN KAUSAL :

   1. Sebab- akibat.
Yaitu dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat, sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.
Contoh : Karena terjatuh di tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.

2. Akibat – Sebab.
Yaitu dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
Contoh : Jari kelingking Budi patah karena memukul papan itu.

3. Akibat – Akibat.
Yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
Contoh : Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran
               dirumah basah.




     KESIMPULAN

                Dari berbagai penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa penalaran dalam prosesnya ada 2 macam yaitu penalaran Induksi dan penalaran Deduktif.


-        Penalaran Induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut Induksi. Dalam penalaran Induktif ini ada 3 jenis penalaran Induktif yaitu Generalisai, Analogi, dan Hubungan sebab akibat ataupun hubungan akibat–sebab.


-        Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Prosesnya disebut Deduksi. Jenis penalaran Deduktif ini diantaranya ada Silogisme dan Entinem.
 
-        Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Prosesnya disebut Deduksi. Jenis penalaran Deduktif ini diantaranya ada Silogisme dan Entinem.
 






Daftar Pustaka

·         Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.
·         Keraf Gorys, Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1989.